dewasa

Selamat Pagi Cinta
Hanya satu membran elastis yang membedakan antara kebahagiaan dan kesedihan. Sahabat Ray, Dita, pernah berkata, "Orang hanya bahagia saat duka itu tiada, dan berduka saat bahagia itu hilang. Tak ada bahagia, maka tak ada susah, begitu pun sebaliknya. Hukum alam yang mudah dicerna. Tapi apa yang terjadi bila ada seseorang yang ingin dan bahkan mampu berada di ambang batas antara keduanya?"

Orang itu adalah orang paling cerdas di dunia. Sekaligus menjadi orang terdingin di dunia. A human without soul. A zombie.

-o-

Selamat Pagi Cinta
(enam dari tujuh hari yang dilalui Ray dalam hidupnya)

"Bunga-bunga di tamannya, banyak rupa dan warna
Ia cari sendiri, ia tanam sendiri
Dirawat dan dimanja, disayang dan dicinta
Tumbuh dan berkembang, takkan jenuh dipandang
Namun bunga tetap bunga, akan lenyap bersama kala
Walau `kan muncul rindu, namun tanah tetap gembur
Dari makamnya akan muncul, rupa-rupa bunga baru-baru
Dan tamannya `kan tetap indah, banyak rupa dan warna
Suguhkan sejuta bahgia, kelanjutan tiada putusnya"

-ray-

DAY 1 Cynthia, girl with love

Yang bilang kalau Ray adalah maniak seks, berarti ia salah besar. Ray bukan maniak. Ia tidak pernah mencuri pakaian dalam, ataupun mengoleksi ribuan film dan gambar porno. Ia tidak masturbasi tiap sepuluh menit. Dan ia tak pernah memperkosa. Tapi yang mengatakan Ray menggemari seks, berarti ia benar. Ray menikmati seks, seperti ia menikmati makan dan minum. Hanya tidak terlalu, secukupnya saja.

`NGGAK!! KAMU TUH MANIAK SEKS!!"
Ray menarik Marlboronya dari bibir dan tertawa.
"Hahaha. Tega benar. Aku kan manusia normal."
"Manusia normal kok bercintanya setiap hari?"
"Cut! Tidak setiap hari!"
"Iya. Lima kali seminggu dengan orang yang berbeda."
"Itu... iya juga yah?" Ray berkata, menggaruk-garuk rambutnya yang sudah mencapai bahu. Suatu kebanggaan tersendiri bagi Ray, memiliki rambut yang panjang dan bagus. Itu mengapa ia tak begitu sedih saat pekerjaan barunya menuntut ia untuk memakai dasi, tapi merana saat ia disuruh memotong rambutnya. Tapi itu tiga bulan yang lalu. Sekarang, tak ada satupun yang mempermasalahkannya. Ray sudah bisa membuktikan bahwa meskipun dandanannya urakan, tapi otaknya tetap lebih encer dibanding orang-orang berambut pendek atau botak sekalipun.

"Tapi maniak kan orang gila. Aku ngga gila tuh. Aku hanya menikmati saja. Seks kan enak," kata Ray lagi. Cynthia tertawa, bangkit dari tempat tidur, lalu setengah menyeret selimut melangkah menuju kamar mandi. Ray menatap punggung mulus gadis itu dengan tersenyum. Cynthia memang pasangan yang menyenangkan, setidaknya sampai tadi pagi. Gadis itu tak pernah mengeluh dan tak pernah menuntut lebih dalam hubungan mereka. Just sex, itu yang mereka sepakati saat pertama kali mereka bercinta sebulan yang lalu. Dan Cynthia cukup bisa memegang komitmennya, meskipun Ray tak jarang mendengar gadis itu mengigau dalam tidur dan berbisik, "Jangan pergi..."
Gadis-gadis itu mencintainya. Mencintai kehangatannya. Bukan just sex, meskipun itu yang mereka setujui mula-mula. Mereka yang sudah pernah dipeluknya semalaman tanpa bercinta. Ray tahu itu. Tapi terikat bukan sesuatu yang diinginkannya, dan ia selalu menekankan pada gadis-gadis itu untuk paham bahwa ia tak bisa membalas cinta mereka. Terkadang Ray merasa bersalah, tapi itulah dirinya.

Ray bangkit dari tempat tidur, mematikan rokok yang masih tersisa setengah. Tadi pagi, setelah Cynthia membangunkannya dengan mengulum penisnya, setelah mereka bercinta, gadis itu memulai perbincangan yang menyedihkan.
"Ray, I think I'm stupid."
"Stupid?"
"Ya. Sometimes you make me feel like I can't live without you."
"Wajar."
"See? Bahkan aku ngga bisa marah walau kamu cuman nanggapin begitu."
"Lalu? Aku bukan seorang yang romantis. Dan kurasa perasaan itu wajar datang setelah make love."
"Oh ya? Kamu juga begitu? Kurasa tidak. Kamu punya banyak sekali wanita di hidupmu. Aku mungkin cuman salah satu teman semalam. Mungkin akulah si Senin, dan si anu jadi si Selasa. Lalu si Kamis."
"Lalu di mana stupid-nya?"
"Stupid-nya? Because I let it be."
"What? The feeling? So don't be."
"How? Aku bukan kamu. Aku ngga punya segudang harem. Aku cukup satu."
"Ya, blame me for that."
"You talk like it's an easy thing to do."
"Semua mudah kalau mau."
"Aku bukan maniak."
"Aku juga bukan."
Dan Cynthia terdiam, memainkan jemarinya di dada telanjang Ray. Sebelum akhirnya mengatai Ray sebagai maniak seks.

Ray cukup kecewa dengan perbincangan itu. Itu berarti Cynthia sudah memakai ...